Sejak kecil aku suka membaca, dan kegemaran membacaku ini ditularkan oleh Bapak, yang memang suka membaca, memiliki banyak koleksi buku, dan berlangganan beberapa majalah, dari mulai majalah berbahasa Sunda "MANGLE", majalah Islam "PANJI MASYARAKAT", majalah "INTISARI" dan koran harian "KOMPAS" (dan meskipun belum begitu memahami isi dari semua majalah di atas, aku sudah mulai ikut membacanya). Aku pun meskipun tidak berlangganan tetap, sering dibelikan oleh Bapak, majalah anak-anak "BOBO" atau "KAWANKU", yang di kemudian hari, setelah aku remaja, aku berlangganan sendiri majalah remaja "GADIS" dan setelah beranjak dewasa, aku berlangganan majalah "FEMINA".
Aku tidak ingat dengan jelas, kapan pastinya aku mulai gemar membaca novel, dan bagaimana awalnya. Tetapi samar-samar aku ingat sedikit, kalau tidak salah, berawal dari mendaftar menjadi anggota dari sebuah tempat penyewaan buku di kota tempat tinggalku, Sukabumi. Juga daftar sebagai anggota perpustakaan daerah di Gedung Joang Sukabumi.
Awalnya meminjam satu, novel Indonesia karangan Marga T. Setelah itu jadi ketagihan, meminjam lagi satu novel yang lain, dari pengarang yang lain, sampai mencoba satu novel karya penulis asing, yaitu Sidney Sheldon, yang membuatku semakin keranjingan dan ketagihan membaca novel. Lalu mencoba lagi meminjam novel karya penulis asing yang lainnya, seperti Agatha Chistie, John Grisham, dan Enid Blyton penulis serial novel anak-anak Lima Sekawan, yang juga semakin membuatku semakin rajin meminjam, kemudian menyisihkan sedikit uang untuk membayar sewanya, bahkan tidak jarang juga harus menyiapkan uang denda pada saat mengembalikan novel-novel yang aku sewa itu telat dari waktu yang sudah ditentukan.
Waktu itu usiaku masih usia 17-an, dan ketika membaca novel-novel itu, aku hanya menikmati keseruan ceritanya saja, belum bisa mengevaluasi, memberikan apresiasi, memberikan penilaian dan perbandingan, apalagi mengupas isi ceritanya.
Waktu aku menikah, aku masih berlangganan majalah Femina, dan pada dua tahun pertama usia pernikahanku, aku masih menumpang di rumah mertua, tumpukan majalah Femina semakin menggunung, di mana aku tidak punya tempat untuk menyimpan, tapi di sisi lain, aku merasa sayang untuk membuangnya begitu saja, akhirnya majalah-majalah tersebut aku simpan di kamarku, dan pada akhirnya aku buang juga pada saat menempati rumah sendiri, setalah tidak menumpang lagi di rumah mertua.
Yang aku ingat dari majalah, tentu saja dari cover-covernya, yang akan dihiasi oleh artis, peragawati atau foto model yang sedang top di kala itu. Untuk majalah Gadis, sebut saja yang sedang top di saat itu adalah Kris Dayanti, Cut Tari, Ersa Mayori, Diana Pungki, Loemongga, Desi Ratnasari. Lalu untuk cover majalah Femina, sebut saja Maudy Kusnaedi, Susan Bactiar, Wanda Hamidah, Ayu Azhari, Koming, Donna Harun,
Di kedua majalah tersebut, ada halaamn mode yang khusus mengupas tentang fashion, yang tentu saja bisa dijadikan acuan untuk gaya mode berbusana yang sedang trend di masa itu. Lalu ada halaman cerita pendek, cerita besambung, resep masakan, halaman jalan-jalan dan tempat wisata yang lagi hit saat itu, dan tentu saja cerita seputar seleb yang sedang hangat jadi pembicaraan di masa itu.
Setelah merebaknya segala sesuatu berbau online, di mana untuk membaca sesuatu orang hanya perlu membuka HP, komputer, dan tidak perlu lagi membeli media cetak, kedua majalah tersebut di atas, dari apa yang aku baca di internet, akhirnya tutup dan hanya tinggal namanya kenangan. Tetapi bagaimanapun, kedua majalah tersebut, aku rasa, buat sebagian orang, telah begitu berjasa, buat para penulis, selain karya tulisannya dibaca dan dikenal luas oleh para pembacanya, juga bisa dijadikan lahan untuk menghasilkan uang, lalu buat para artis, para selebriti, dengan majalah itulah namanya seperti dibantu didongkrak untuk lebih populer dan dikenal luas.Lebih jauh lagi, dengan majalah ini, ada begitu banyak pihak yang telah terlibat di dalamnya, mulai dari jajaran staf dan redaksi majalah, lalu di luar itu, perusahaan percetakan beserta perusahaan yang menjalankan bidang pendistribusiannya, perusahaan pengiklan, sampai pada penjual majalah di pinggir jalan yang semuanya ikut menikmati masa-masa kejayaannya, dan ikut terkena imbasnya pada saat dunia media cetak mengalami kejatuhannya.
Berbeda dengan majalah, yang aku buang karena semakin lama semakin memakan tempat, dan rasanya tidak begitu perlu lagi untuk disimpan, aku tetap menyimpan semua koleksi buku dan novel-novelku, aku menyimpannya di lemari khusus, menatanya dengan rapi. Dan secara berkala membersihkannya dari debu. Koleksi novel-novelku itu, ada yang aku beli, ada yang aku dapatkan sebagai hadiah atau pemberian dari seorang teman. Ketika aku sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, setiap kali sehabis tanggal gajian, pasti aku menyisihkan sedikit uang untuk pergi ke toko buku Gramedia, lalu membeli novel dari pengarang-pengarang kesayangan. Kalau dulu jamannya aku hanya bisa menyewa di tempat penyewaan buku dan meminjam di perpustakaan daerah, aku hanya mengenal novel-novel karya Marga T., Sidney Sheldon, Agatha Christie, N.H. Dini, dan Enid Blyton, John Grisham, ketika aku sudah mampu membelinya sendiri, aku mulai kenal dengan pengarang-pengarang yang lain lebih banyak lagi. Aku mulai membeli novel karya Erich Segal, George Dawes Green, Michael Crichton, Irving Wallace, Jackie Collins, Umar Khayam, dan masih ada beberapa yang lain.
Dari semua koleksi novel yang sudah aku baca dan aku miliki, rasa-rasanya aku tidak bisa memfavoritkan salah satunya. Setiap pengarang, setiap judul punya kekahasan, punya keunggulan, keunikan, dan keseruan masing-masing. Aku tidak bisa bilang John Grisham lebih hebat dari Erich Segal, atau N.H Dini lebih bagus dari Marga T. yang sama-sama pengarang lokal. Semuanya buatku bagus, punya ciri khas masing-masing.
Ketika aku membaca novel-novel karya Agatha Christie, aku akan melihat kepiawaiannya meramu cerita detektif yang saking piawainya, aku hampir tidak pernah bisa menabak ending ceritanya jadinya seperti apa, selalu kasus pembunuhan yang menjadi misteri dari cerita di dalam novelnya tersebut, hanya akan terpecahkan jika kita sudah membacanya sampai akhir. Dan aku sering dibuat ternganga, karena tokoh yang aku curigai sebagai aktor atau pelaku kejahatan dalam cerita novel Agatha Christie, aku selalu salah menebaknya, dan aku akan ingat Mr. Hercule Poirot dan Ms. Marple sebagi tokoh detektif dalam nove-novel Agatha Christie.
Lain lagi dengan novel-noevl John Grisham, yang sarat dengan latar belakang dunia kepengacaraan, bahasa-bahasa sidang di pengadilan, bahasa-bahasa hukum, undang-undang, gugatan, intrik-intrik dan hiruk pikuk dunia pembelaan untuk setiap kasus yang terjadi terhadap seorang manusia yang harus dihadapkan dengan kasus hukum, yang di dalamnya akan melibatkan saksi, tergugat, tersangka, terdakwa, sidang, vonis, hakim, jaksa, juri, pengacara, penjara, denda, pembuktian, pembelaan, yang semuanya adalah khas dunia hukum. Tapi dari membaca novel-novel John Grisham inilah, aku jadi sedikit banyak, mengerti tentang dunia hukum. Dari mulai sesuatu bisa dijadikan kasus hukum, lalu diusut, kemudian dibawa ke sidang pengadilan, ada pendampingan pengacara, ada pertarungan di sidang pengadilan, yang tidak jarang semua fakta bisa diputarbalikkan, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar, sampai kasus selesai, dan pemenangnya keluar yang diputuskan oleh kewenangan hakim, berdasarkan hasil keputusan juri kemudian novel berakhir.
Sekarang aku sudah jarang membaca dari media cetak, dunia sudah memberikanku kemudahan untuk bisa membaca apapun secara online. Salah satunya di blog-blog seperti ini.
Mari Menulis
Saya gemar membaca, dari gemar membaca, saya jadi suka menulis. Dan Saya menulis apa saja.
Rabu, 05 November 2025
Rabu, 03 Agustus 2011
Katalangsara Ku Hujan
Mangkaning bewara ti BMG (Badan Meteorologi Dan Goefisika) teh, usum hujan anu jiga kiwari teh masih keneh mangbulan-bulan deui. Beu, kacipta, kumaha luh-lahna, kumaha rudetna abdi sapopoena ngalakonan hirup anu pantar kieu. Ampun paralun, sanes aral subaha, teu nyukuran kana naon-naon anu tos dipaparin ku Gusti Allah (nanging rumaos eta oge, abdi tukang rumahuh ketang). Nyarios kieu soteh bakating ku hoyong bae ngabagi pangalaman ka sadayana.
Upami teu lepat, tos ti sasih Juli mula hujan ngecrek kieu teh. Malihan mah beuki dieu, asa mingkinan sering. Teu sirikna unggal dinten, ageungna oge sanes deui. Upami tos cur teh, sorana mani seah. langitna mani hideung angkeub kacida, saur paripaos mah poek mongkleng buta rajin. Atuh gelap mani dor dar tingjeleger patembalan sareng angin anu pating gelebug, matak sawan matak ketir. Padahal mah upami nilik enjing-enjingna, na da teu siga-siga bade hujan. Srangenge anu sakitu moncorongna, langit anu sakitu bengrasna, malihan majeng ka tengah poe, panon poe teh mani moreret, matak wegah lunta, bade ingkah kaluar teh mani inggis, nembe nincak pakarangan oge raraosan kulit teh mani asa karerab. Tapi teu lami eta teh, lalaunan langit reup-reupan, ujug-ujug ceudeum, disusul ku kilat pating barasat, guludug pating beledug, breg bae hujan siga anu dicicikeun ti langit.
Upami tos kitu, sok janten leutik hate, bingung ngemutan kumaha wangsul. Da nya kitu tea, lalakon ti pakulian ka rorompok teh sanes lalakon anu caket. Heg naek beus, heg pangawak awewe. Dina teu hujanna oge, rata-rata dua jam dugi ka rorompok teh, da kahalangan ku macet tea. Atuh komo deui katambihan ku hujan, jalan kacaahan di mana-mana, mingkinan macet, mingkinan wengi we abdi dugi ka rorompok teh.
Upami tos dongkap rudet, sakapeung mah sok ngalamun, sok hoyong hos weh ngadadak beunghar, ngarah teu kula-kuli deui. Kantun ucang angge, curuk kantun ngacir ngutah ngetah batur. Tapi ketang, apan matak sim kuring kieu teh bakating ku gaduh bakat tea. Bakat ku butuh!!! Bakat anu luhur sareng mulya. He he he .. Da upami teu gaduh bakat ku butuh tea mah, ah teu hararoyong ngala artos mani tisusut tidungdung kitu, hulu dijeun suku, suku dijieun hulu teh enyaan pisan. Sanes ngawadul, baraya …
Tapi sok enggal-enggal meper maneh, ngahibur diri sorangan. Da geuningan di sakolong langit teh sanes mung abdi sorangan anu ngalakonan katalangsara ku hujan jiga kitu teh. Prah bae, malihan mah teu kirang-kirang anu kasesahna langkung ti abdi. Bumina langkung tarebih, kandaraanana langkung sesah, yuswana tos sarepuh, saluhureun abdi, tapi damang we geuning, teu kua kieu. Tos teu aneh deui, dur-duran isa teh, di halte beus atanapi di handapeun jambatan layang masih keneh ngagimbung, para wanoja, ibu-ibu, barudak sakola, para mahasiswi, ngantosan beus, ojeg, taksi, jemputan pribadi, omprengan, bari ngahodhod ku tiris, cangkeul mah tong dicarioskeun deui. Ku ningali kitu oge, sok ngagedean hate abdi, tong sok leutik burih cekeng teh ka diri sorangan. Tuh batur oge sarua wae jeung kuring.
Mugi-mugi ya Allah, abdi dipaparin kakiatan sareng kaikhlasan ngalakonan sadayana ieu, abdi seja ibadah, seja nyumponan kawajiban supados dapur ngebul, supados pun anak tiasa sakola, supados pun anak sehat sabihara-sabihari deui, sawios bari jeung heureut pakeun oge, amien …..
NYOREANG KATUKANG
Teu karaos geuning lalampahan teh tos nuju ka sareupna, asa cikeneh sim kuring budak leutik olol leho, teras mangkat rumaja, ayeuna tos langkung ti ngan sakadar awewe dewasa. Dina implengan, sok sering sim kuring nyoreang ka tukang medar lalakon baheula. Bray-brayan ngolebat minuhan alam lamunan. Sok anteng ngahaja diemut-emut, kalan-kalan sok aya gerentes na hate, ku hoyong balik deui ka mangsa ka tukang. Ayeuna oge dipedar di dieu, salah sawiosna pedah abdi nuju emut ka mangsa keur budak. Seueur anu masih keneh kagambar dina implengan, saringkak paripolah harita. Mangsa-mangsa endah anu moal tiasa kaalaman deui. Sim kuring kawit ti hiji lembur, anu sanaos teu kalebet lembur singkur, tapi henteu caket deuih ka kota, kedah nganggo kendaraan kirang langkung 15 menitan. Lembur sim kuring ayana dina suku Gunung Gede, di Sukabumi, caket pisan ka perkebunan sareng pabrik enteh Goalpara kagungan pamarentah. Mangsa sim kuring sakola SD, pimanaeun tumpak angkot siga barudak jaman ayeuna, ka sakola teh mapah bae, da caket ari kitu tea mah deuih, sakilo mah aya panginten. Mulang ti sakola sok mabal mapay sawah, tah palebah mapay sawah tea, sanaos budak istri, aya wae bangorna mah. Upami aya sawah anu dikebonan bonteng, upami teu aya anu gaduhna, sok wantun ngala dua tilu siki mah, teras digogosan sapapanjang galengan bari tingcikikik sareng rerencangan. Dur lohor, geuwat siap-siap mios ka sakola agama, mapah deui wae da caket pisan, suhunan madrasahna oge katingal ti rorompok teh. Diajar teh ngampar dina samak, sakelas-sakelasna kinten-kinten mung ukur tujuh dugi ka sapuluh urangan mah. Teu aya pamisahna. Anu janten guru, Mang Adul, santri senior di Pasantern. Nu diajarkeun teh Tauhid, Fiqih, Ahlaq, Tajwid, Silsilah Nabi sareng sajabina. Emut keneh sok disetrap tah ku Mang Adul teh, da eta sering aya nu kedah ditalar, giliran maju ka payun, seueur hilapna. Wanci Asar tos mulang. Sanes gura-giru mandi, tapi kalah diteraskeun ku maen ucing sumput, kasti, galah, sareng anu sanesna kaulinan barudak kampung. Wanci sareupna nembe mandi, kitu ge ngubek kulah batur, ngojay sareng rerencangan dugi ka disieuh-sieuh ku nu gaduh kulahna, bari ngawekwek da lauk janten marabok. Wanci sariak layung tos mios ka kobong, ka pasantren istri, di dinya-dinya keneh sami sareng madrasah tea. Pengkereun kobong, aya kulah anu Ibu Haji Saadah, kacida ageungna, tah ngantosan magrib, sok ngobrol di sisi kulah sareng rerencangan, sabari nyawang panon poe di beulah kulon mangsana surup. Aya ku endah wanci kitu teh, wanci sariak layung, di luhur, manuk sareng lalay gegeleberan, sora sasatoan sabangsaning tonggeret rame disarada, upami nuju kaleresan, sok ningal katumbiri. Dur magrib pahibut ka kobong ka pasantren istri tea, rengse sholat magrib berjamaah, teras ngaos Quran, diteraskeun diajar deui naon-naon anu diajarkeun di sakola agama anu lohor tea. Kitu-kitu keneh. Bentenna ari ngaos nu ieu mah barudak istri wungkul, barudak pameget mah ngaosna di masigit. Hanjakal teu aya anu junun, boh sakola agama boh ngaos, teu dugi ka cacap. Ayeuna mah kantun kaduhungna bae. Padahal mah sadayana gratis, kantun daekna bae. Bada isa nembe bubar, upami malem Kemis, sok ngantosan acara Aneka Ria Safari dina TVRI. Dur subuh tos giridig deui ka kobong wangsul kinten-kinten wanci carangcang tihang, gejebur-gejebur mandi teras saged bade ka mios sakola. Kitu bae sadidintenna sim kuring mangsa budak teh. Anu moal hilap teh deuih, sareng anu pikaresepeun, mangsana ku pun aki ku pun nini diajak ka sawah, boh ningal panen. Ngiring ancrub pas mangsana tandur, tumpak kebo oge ngalaman. Ngiring ngagiringkeun lauk upami ngabedahkeun kulah. Mangsana metik enteh, oge tara kakantun ngiring, ngagilesna oge anu ku panangan tea sok ngengklokan ngiringan. Nutuan pare dina lisung oge asok ngarewong. Upami bade mupu bubuahan di tegal oge sok ngiring tara kakantun. Kaleresan pun aki teh rajin, mani sagala dipelak, ti ngawitan duren, dukuh, kokosan, manggu, menteng, sadayana aya. Anu ayeuna sok hanjelu teh perkawis meri. Kapungkur mah pun nini teh ngingu meri, endog asinna oge sok ngadamel nyalira. Teu kantos tah neda daging meri the nuju budak mah, teu resep. Na ari ayeuna, karesep pisan kana nasi bebek teh, raos geuning daging meri teh. Aduh, teu karaos geuning nyoreang ka tukang teh mani tos ngemplad kieu, anu padahal mah seueur keneh dongengkeuneunana teh, boa matak bosen anu maraos, kitu oge upami aya anu keresa maosna ketang, heuy deuh. Sanes waktos disambung deui. Susuganan atuh aya baraya anu gaduh dongeng anu kirang langkung sami sareng sim kuring, upami aya waktos mah sok tuh dongengkeun…..
SI AKI
Saleresna mah sanes aki pituin, tapi aki ti gigir (kapiaki kitu?). Ku sim kuring disaurna teh Aki bae, ka istrina Mimih. Teu pupuguh nyaeta ieu teh bet ras emut ka anjeunna, asa ngalangkang bae dina kongkolak panon, sarengkak saparipolahna, soantenna, dangdosannana. Padahal mah jalmina tos teu aya, ngantunkeunnana oge parantos lami, kirang langkung taun 93-an, upami dietang mah parantos 17 taun. Diguar soteh, bakating ku nineung sanes kanten. Si Aki teh, urang kampung bau lisung, kampung anu jauh ka bedug, tapi sagalana ngota pisan. Boh dina dangdosan, karesep, kagaduh, sareng tingkah polah sadidintenna. Dangdosan teu weleh rapih, lancingannana sok nganggo pantalon anu teu weleh ngajiripit kengeng nyetrika ku setrika areng, kaluhurna nganggo kameja anu dikanji, luarna ditutup weh ku acuk haneut. Teras nganggo tasma, teu kakantun nganggo peci atanapi topi laken. Sapatuna, sapatu kenip, anu ramona katingal tea geuning. Tegep weh katingalina, komo kanggo ukuran urang kampung mangsa harita mah, anu seuseueurna, ari sanes padamel kantoran mah, cekap ku disasarung, calana komprang, sendal tarumpah, tos cekap. Ari dedeganna mah, biasa si Aki teh, malah kuru-kuru acan, panginten pedah ku sabab “perokok berat”, ngantunkeunnana oge waktos harita teh ku gaduh panyawat paru-paru. Ari pacabakannana, padamel kantoran sanes, patani sanes, komo deui guru mah, sanes. Wirausaha tea panginten kasebatna. Panghasilan anjeunna teh, salian tina hasil kebon sareng sawah, gaduh mobil elf hiji. Jurusan Sukabumi Cianjur, anu nyandakna mah batur, si Aki mah kantun nampi setoranana bae, tokehna istilahna mah. Di sagedengeun eta, ternak hayam negri weh sareng miara sapi perah sababaraha hiji. Leresan ternak hayam, upami panen teh si Aki sok nyewa treuk, upami pas wanci bade lebaran tos sasih saum, sim kuring sok ngahaja diajak ku Mimih ka kota numpang treuk hayam tea, calik dipangku dipayun gigireun supir, sateuacanna, kedah ngaleueut antimo, dan sok mabok, ma’lum urang kampung tea, naek mobil oge keur jarang teh, lalakonna rada tebih deuih ka kota teh, jalanna oge masih keneh taringgul, teu acan mulus sapertos kabehdieunakeun. Mangsa harita mah, ka lembur sim kuring, angkot teh masih carang keneh pisan, ngantosanana oge, kedah 3 jam sakali mah panginten. Janten treuk hayam oge kedah dimangpaatkeun ari hoyong geura-geura mah. Lajeng, karesepna si Aki. Urang kampung, tapi karesepna mah ngota, mangsa batur mah boro-boro maos majalah, si Aki mah tos maosan majalah Mangle (majalah basa Sunda). Mangsa batur mah teu acan gaduh tip kanggo nyetel kaset, anjeunna mah sanes bae tos gaduh tip sareng radio, TV oge tos gaduh, otomatis deuih koleksi kasetna oge seueur. Ti kawit D’ Lloyd, Koes Plus, A. Rafiq, Degung, Jaipong, Keroncong, teu kakantun kaset Quro sareng gambus atanapi kosidahan. Lengkep pan? Tah upami subuh-subuh, pangpayunna anu disetel teh kaset quro, soanten nu ngaos mani ngalanglaung (da nganggo salon sagala apan), qorina upami teu H. Mu’amar ZA, H. Nanang Qosim. Harita mah mani ngetop eta dua qori teh, katambih waktos harita mah, musabaqoh tilawatil qur’an teh nuju nanjeur, teu sirikna unggal taun aya, boh di kabupaten atanapi tingkat propinsi, mani pada ngadeugdeug. Tos seep kaset quro, disambung ku kaset gambus sareng kosidah. Rada siangan, nembe tah kadangu degung, jaipong, lagu pop Indonesia anu nuju top mangsa harita. Janten teu aneh, masing leres oge sim kuring teh generasi rada beh dieu, tapi apal pisan kana lagu-lagu lawas teh, lagu anu kedahna mah karesep aki-aki. Da panginten ieu ceuli ti aalit teh tos ngadangukeun lalaguan karesepna si Aki tea, heg unggal dinten deuih, tara kalangkung eta teh. Lagu keroncong oge, ti ngawitan Jembatan Merah dugi ka Selendang Sutera, apal sim kuring teh, jasana si Aki panginten tah. Malihan mah, lagu-lagu tina albumna Mashabi, apal sim kuring teh. Padahal pantaran sim kuring mah, kedahna mah teu arapal lagu nu karitu, he..he.. Nuju jamanna kamera nembe aya oge, tos meser si Aki mah. Janten, dokumentasi putu-putuna mangsana nuju aralit, kalebet si kuring, aya tah.. Anu matak helok mah, Si Aki teh gaduh geureuhana dua, anu anom sareng anu sepuh. Tapi, eta mani ku akur duanana teh. Anu anom ngahormat ka anu sepuh, teu nincak hulu. Atuh anu sepuh, teu ngaraos dipangnyerikeun, ngaping bae ka nu anom teh. Layeut kaditu kadieu teh. Malihan, upami nu anom sumping nganjang ka anu sepuh, kulemna oge mani sok sakamar, saranjang tiluan, sanes bohong eta teh. Anu teu sasarengan teh, siram bae panginten. Anu lucu mah, ku kakontrasan anu anom sareng anu sepuh. Tina dangdosanana wae, tos benten. Nu anom mah modern, anggoannana, erok, rambut teu disunggal sanggul, ngota we lah. Ari anu sepuh sawangsulna, anggoannana kabaya, disinjang, rambut digelung, teras dicindung. Ari yuswa mah sigana teu patos tebih. Na gaduh jampe naon atuh nya si Aki teh, dugi ka tiasa kitu? Repeh-rapih bae tara kakuping aya cekcok atanapi parasea, tiis ceuli herang mata kadangu sareng katingalina teh. Upami nuju kilir ka anu anom (bumina di kota), sok tiiseun, da ari Mimih mah tara tual toel sagala kana tip atanapi radio. Ayeuna mah mung kantun nineungna bae ka si Aki teh. Anu teu disangka-sangka, kaset-kaset lawas tea, masih keneh aya, rapih disimpen dina rak kaset, luhureun buffet di tengah bumi si Mimih. Foto si Aki oge, anu masih hitam putih, masih dipajangkeun ku Mimih teh, nuju nganggo topi laken, kumisan, nuju anom keneh. Ayeuna mah kantun nineungna, moal tiasa patepang deui. Ari baraya anu sanes, gaduh dongeng Aki atanapi Nini anu pikanineungeun sapertos sim kuring?
JODO
Aya jodo, anu keuna kana paribasa “jodo mah jorok”. Tara make pipilih, ari geus srek mah jeung hate, ceuk batur goreng patut oge, masing karek papanggih oge, masing kurang diidinan ku kolot oge, belaan tunggul dirarud, catang dirumpak, teu burung ngahiji, teu burung ngajodo. Teu ningali rupa, teu ningali saha, ti mana, urang mana, teu ningali anak saha. Ari bogoh mah duanana, der bae ka bale nyungcung, hirup runtut raut, sauyunan, sabagja sacilaka, nepi ka boga turunan, anak incu, nepi ka dipisahkeunana ku pati.
Aya oge jodo anu kudu sabar nungguanana. Anu kieu mah pikeun anu can kaparengkeun dibere jodo ku Nu Maha Kawasa. Padahal mah teu kurang-kurang geulisna, kasepna, dedeg sampe rupa hade. Atuh turunan, lain turunan jalma jore-jore, sakola luhur, kabisa masagi, pinter, boga jabatan, loba tingalieunana, tapi ari can waktuna mah manggih jodo, tepi ka ayeuna masih kenah lalagasan, padahal anu sapantaranana mah geus reuay ku anak incu,.
Aya deui jodo, anu lalakonna teh bet kudu nguriling mapay nu rumpil. Wawuh geus ti jaman baheula, geus papada wanoh ti anggalna. Sagulung sagalang sapopoena. Duanana papada boga rasa sir, tapi teu kedal, teu kaucapkeun, ngan ukur dipendem dina atina masing-masing. Waktuna rimbitan, terus papisah jauh, nuturkeun rumah tanggana sewang-sewangan. Mangtaun-taun teu beja teu carita, ari panggih deui, duanana geus pipisahan, geus lelengohan deui, da rumah tanggana jauh tina beres roes. Atuh bet siga anu dijalanan, mobok manggih gorowong, rasa anu teu kungsi kedal, lain ngan saukur dibudalkeun, tapi terus dipageuhan ngajadi hiji rumah tangga anu anyar. Lamun nyaho kitu mah, ti baheula we atuh nya, make ngadon kukurilingan heula, mapay-mapay anu rumpil. Tapi balik deui kana papasten, geus keresana Gusti nu matak kitu oge meureun.
Aya oge anu estu matak pujieun batur. Papacangan ti jaman papada sakola, duanana pengkuh, teu galideur, teu ngalaman kagoda ku nu lian. Kanyaah, katresna, tamplok sakabehna, teu nyesa keur nu lianna, tepi ka waktuna diresmikeun ku ijab kobul di hareupeun naib. Atuh pas beber layar, ngambah sagara rumah tangga, bisa disebutkeun, rumah tanggana teh rumah tangga anu sakinah, mawaddah, warohmah
Aya oge jodo anu kudu sabar nungguanana. Anu kieu mah pikeun anu can kaparengkeun dibere jodo ku Nu Maha Kawasa. Padahal mah teu kurang-kurang geulisna, kasepna, dedeg sampe rupa hade. Atuh turunan, lain turunan jalma jore-jore, sakola luhur, kabisa masagi, pinter, boga jabatan, loba tingalieunana, tapi ari can waktuna mah manggih jodo, tepi ka ayeuna masih kenah lalagasan, padahal anu sapantaranana mah geus reuay ku anak incu,.
Aya deui jodo, anu lalakonna teh bet kudu nguriling mapay nu rumpil. Wawuh geus ti jaman baheula, geus papada wanoh ti anggalna. Sagulung sagalang sapopoena. Duanana papada boga rasa sir, tapi teu kedal, teu kaucapkeun, ngan ukur dipendem dina atina masing-masing. Waktuna rimbitan, terus papisah jauh, nuturkeun rumah tanggana sewang-sewangan. Mangtaun-taun teu beja teu carita, ari panggih deui, duanana geus pipisahan, geus lelengohan deui, da rumah tanggana jauh tina beres roes. Atuh bet siga anu dijalanan, mobok manggih gorowong, rasa anu teu kungsi kedal, lain ngan saukur dibudalkeun, tapi terus dipageuhan ngajadi hiji rumah tangga anu anyar. Lamun nyaho kitu mah, ti baheula we atuh nya, make ngadon kukurilingan heula, mapay-mapay anu rumpil. Tapi balik deui kana papasten, geus keresana Gusti nu matak kitu oge meureun.
Aya oge anu estu matak pujieun batur. Papacangan ti jaman papada sakola, duanana pengkuh, teu galideur, teu ngalaman kagoda ku nu lian. Kanyaah, katresna, tamplok sakabehna, teu nyesa keur nu lianna, tepi ka waktuna diresmikeun ku ijab kobul di hareupeun naib. Atuh pas beber layar, ngambah sagara rumah tangga, bisa disebutkeun, rumah tanggana teh rumah tangga anu sakinah, mawaddah, warohmah
Sanes Teu Ngamumule Basa Indung
Asa ngajenghok dina hiji waktos, abdi maca salah sawios status salah saurang rerencangan dina FB, yen anjeunna mah moal tuturut munding siga anu sanes updat apdet status nganggo basa Inggris, saha atuh cenah anu bakal ngamumule basa Sunda sabage basa indung ari sanes urang Sundana sorangan, bari rada sinis kadanguna teh. Janten rada teu raos abdi teh, muhun mani asa kasindiran, sanaos abdi oge yakin teu pisan-pisan eta rerencangan teh nujukeun eta kalimah teh ka abdi sorangan.
Rada isin abdi teh, da mani asa nenggel pisan, muhun apan abdi oge kalan-kalan mah updat updet status dina pesbuk teh sok nganggo basa Inggris, nya kitu kuman komen oge, upami statusna basa Inggris, abdi sok ngomenan ku basa Inggris deui. Tapi teu pisan-pisan, sanes hoyong katangar, teu pisan-pisan abdi seja mopohokeun basa Sunda, tos teu niat ngamumule deui basa indung, ampun paralun. Kitu soteh kaleresan bae abdi tiasa basa Inggris sautak saeutik, anu pas-pasan tea geuning, boboro cas cis cus siga anu sanes mah, he he he.
Kaduana, kaleresan deuih gaduh rerencangan di dunya maya teh salah sawiosna urang asing, anu pastina oge, boboro basa Sunda, basa Indonesia oge moal apaleun.
Katiluna, numutkeun pamendak saabdieun, jalmi bodo, teu kirang-kirang pentingna tiasa basa Inggris teh, kalah kumaha oge tos janten basa nomor hiji di dunya. Malihan mah pastina bakal langkung sae upami tiasa basa asing anu sanesna. Ku hoyong abdi mah tiasa basa Arab, basa Jepang, basa Perancis, basa Mandarin, sareng anu sanesna. Komo basa Arab mah, kieu-kieu oge abdi teh nganut agama Islam, kanggo neuleuman eusi Al-Quran teh pastina oge kedah tiasa basana. Ari abdi mah boro-boro apan. Satimu-timuna we waktos sakola agama sareng ngaos kapungkur nuju keur budak.
Janten sakali deui, nganggo basa Inggris teh sanes hartosna atos mopohokeun sareng sanes tos teu ngamumule deui basa Sunda. Ngamumule basa indung, mikacinta, mikanyaah basa Sunda ulah ngahalangan kanggo gaduh katiasa basa asing. Tapi asa gaduh dosa deuih abdi teh. Eta, pun anak di rorompok, sadidintenna oge nyariosna teh nganggo basa Indonesia, asok eta oge ngahaja diajak nyarios basa Sunda, tapi sesah pisan tiasana geuning, da Apa-na apan kawit ti Jawa Tengah, sadidintenna nyarios basa Indonesia sareng basa Jawa. Pun anak oge kalan-kalan asok diajak nyarios basa Jawa. Janten lieureun panginten pun anak teh. Hampura indung nya kasep, teu bisa ngawariskeun basa luluhur ka hidep …
Rada isin abdi teh, da mani asa nenggel pisan, muhun apan abdi oge kalan-kalan mah updat updet status dina pesbuk teh sok nganggo basa Inggris, nya kitu kuman komen oge, upami statusna basa Inggris, abdi sok ngomenan ku basa Inggris deui. Tapi teu pisan-pisan, sanes hoyong katangar, teu pisan-pisan abdi seja mopohokeun basa Sunda, tos teu niat ngamumule deui basa indung, ampun paralun. Kitu soteh kaleresan bae abdi tiasa basa Inggris sautak saeutik, anu pas-pasan tea geuning, boboro cas cis cus siga anu sanes mah, he he he.
Kaduana, kaleresan deuih gaduh rerencangan di dunya maya teh salah sawiosna urang asing, anu pastina oge, boboro basa Sunda, basa Indonesia oge moal apaleun.
Katiluna, numutkeun pamendak saabdieun, jalmi bodo, teu kirang-kirang pentingna tiasa basa Inggris teh, kalah kumaha oge tos janten basa nomor hiji di dunya. Malihan mah pastina bakal langkung sae upami tiasa basa asing anu sanesna. Ku hoyong abdi mah tiasa basa Arab, basa Jepang, basa Perancis, basa Mandarin, sareng anu sanesna. Komo basa Arab mah, kieu-kieu oge abdi teh nganut agama Islam, kanggo neuleuman eusi Al-Quran teh pastina oge kedah tiasa basana. Ari abdi mah boro-boro apan. Satimu-timuna we waktos sakola agama sareng ngaos kapungkur nuju keur budak.
Janten sakali deui, nganggo basa Inggris teh sanes hartosna atos mopohokeun sareng sanes tos teu ngamumule deui basa Sunda. Ngamumule basa indung, mikacinta, mikanyaah basa Sunda ulah ngahalangan kanggo gaduh katiasa basa asing. Tapi asa gaduh dosa deuih abdi teh. Eta, pun anak di rorompok, sadidintenna oge nyariosna teh nganggo basa Indonesia, asok eta oge ngahaja diajak nyarios basa Sunda, tapi sesah pisan tiasana geuning, da Apa-na apan kawit ti Jawa Tengah, sadidintenna nyarios basa Indonesia sareng basa Jawa. Pun anak oge kalan-kalan asok diajak nyarios basa Jawa. Janten lieureun panginten pun anak teh. Hampura indung nya kasep, teu bisa ngawariskeun basa luluhur ka hidep …
Selasa, 02 Agustus 2011
About Me
About Me
My name is Neni Ratna Yuliani, but please just call me Neni. I was born in a small village in a small town Sukabumi, West Java Province . After graduated from high school, I left my beloved family to find a job in Jakarta . It was nineteen years ago. So, I am now an old woman already. Yes, I am married, I have happy family with only one kid. Live in very small house in Pamulang area with my beloved husband. We love each others. I am working in garment business field, so I spend my days from Monday up to Friday as a career woman and dedicate my weekend time to taking care of my family. I like reading and writing, and I am sure that I can call it as my hobbies. So in my spare time, I sometimes will do those activities. But I have no idea for sure since when it started. For writing hobby, perhaps it started when I was a young girl. At that time, I was a shy girl, I have only a few friends around me, so when I need someone to talk to and to share something, I will write it on my diary. And it was initially I like writing. On one hand, it leads me to become an introvert girl, but on the other hand, my writing skill has begun. From that moment, I tried to write short articles, but of course to be kept for my own file. Most of them written in Sundanese and Bahasa Indonesia, only a few written in English. It because that I aware that my writing skill in English is not on good level yet. Now, I am not a shy person anymore and I have a lot of friends around me. As mentioned above, I like reading as well. I can read everything. It can be magazines, novels, book history, biography, news papers, online news, and so on. To me, reading is a must. It makes me confident, that I know so many things. It makes open my mind widely. So in my life, no days will be without reading. I have some novel collections at home. My most favorite novels are John Grisham novel, and Agatha Christie. I also like music and movies. I like oldies songs, for movies, I like drama, thriller, detective and comedy. Hope the above short article can describe myself and can represent ABOUT ME.
Langganan:
Komentar (Atom)