Rabu, 05 November 2025

Antara Majalah, Novel, dan Buku

Sejak kecil aku suka membaca, dan kegemaran membacaku ini ditularkan oleh Bapak, yang memang suka membaca, memiliki banyak koleksi buku, dan berlangganan beberapa majalah, dari mulai majalah berbahasa Sunda "MANGLE", majalah Islam "PANJI MASYARAKAT", majalah "INTISARI" dan koran harian "KOMPAS" (dan meskipun belum begitu memahami isi dari semua majalah di atas, aku sudah mulai ikut membacanya).  Aku pun meskipun tidak berlangganan tetap, sering dibelikan oleh Bapak, majalah anak-anak "BOBO" atau "KAWANKU", yang di kemudian hari, setelah aku remaja, aku berlangganan sendiri majalah remaja "GADIS" dan setelah beranjak dewasa, aku berlangganan majalah "FEMINA".

Aku tidak ingat dengan jelas, kapan pastinya aku mulai gemar membaca novel, dan bagaimana awalnya. Tetapi samar-samar aku ingat sedikit, kalau tidak salah, berawal dari mendaftar menjadi anggota dari sebuah tempat penyewaan buku di kota tempat tinggalku, Sukabumi. Juga daftar sebagai anggota perpustakaan daerah di Gedung Joang Sukabumi.

Awalnya meminjam satu, novel Indonesia karangan Marga T. Setelah itu jadi ketagihan, meminjam lagi satu novel yang lain, dari pengarang yang lain, sampai mencoba satu novel karya penulis asing, yaitu Sidney Sheldon, yang membuatku semakin keranjingan dan ketagihan membaca novel. Lalu mencoba lagi meminjam novel karya penulis asing yang lainnya, seperti Agatha Chistie, John Grisham,  dan Enid Blyton penulis serial novel anak-anak Lima Sekawan, yang juga semakin membuatku semakin rajin meminjam, kemudian menyisihkan sedikit uang untuk membayar sewanya, bahkan tidak jarang juga harus menyiapkan uang denda pada saat  mengembalikan novel-novel yang aku sewa itu telat dari waktu yang sudah ditentukan.

Waktu itu usiaku masih usia 17-an, dan ketika membaca novel-novel itu, aku hanya menikmati keseruan ceritanya saja, belum bisa mengevaluasi, memberikan apresiasi, memberikan penilaian dan perbandingan, apalagi mengupas isi ceritanya. 

Waktu aku menikah, aku masih berlangganan majalah Femina, dan pada dua tahun pertama usia pernikahanku, aku masih menumpang di rumah mertua, tumpukan majalah Femina semakin menggunung, di mana aku tidak punya tempat untuk menyimpan, tapi di sisi lain, aku merasa sayang untuk membuangnya begitu saja, akhirnya majalah-majalah tersebut aku simpan di kamarku, dan pada akhirnya aku buang juga pada saat menempati rumah sendiri, setalah tidak menumpang lagi di rumah mertua.  

Yang aku ingat dari majalah, tentu saja dari cover-covernya, yang akan dihiasi oleh artis, peragawati atau foto model yang sedang top di kala itu. Untuk majalah Gadis, sebut saja yang sedang top di saat itu adalah Kris Dayanti, Cut Tari, Ersa Mayori, Diana Pungki, Loemongga, Desi Ratnasari. Lalu untuk cover majalah Femina, sebut saja Maudy Kusnaedi, Susan Bactiar, Wanda Hamidah, Ayu Azhari, Koming, Donna Harun, 
Di kedua  majalah tersebut, ada halaamn mode yang khusus mengupas tentang fashion, yang tentu saja bisa dijadikan acuan untuk gaya mode berbusana yang sedang trend di masa itu. Lalu ada halaman cerita pendek, cerita besambung, resep masakan, halaman jalan-jalan dan tempat wisata yang lagi hit saat itu, dan tentu saja cerita seputar seleb yang sedang hangat jadi pembicaraan di masa itu.
Setelah merebaknya segala sesuatu berbau online, di mana untuk membaca sesuatu orang hanya perlu membuka HP, komputer, dan tidak perlu lagi membeli media cetak, kedua majalah tersebut di atas, dari apa yang aku baca di internet, akhirnya tutup dan hanya tinggal namanya kenangan. Tetapi bagaimanapun, kedua majalah tersebut, aku rasa, buat sebagian orang, telah begitu berjasa, buat para penulis, selain karya tulisannya dibaca dan dikenal luas oleh para pembacanya, juga bisa dijadikan lahan untuk menghasilkan uang, lalu buat para artis, para selebriti, dengan majalah itulah namanya seperti dibantu didongkrak untuk lebih populer dan dikenal luas.Lebih jauh lagi, dengan majalah ini, ada begitu banyak pihak yang telah terlibat di dalamnya, mulai dari jajaran staf dan redaksi majalah, lalu di luar itu, perusahaan percetakan beserta perusahaan yang menjalankan bidang pendistribusiannya, perusahaan pengiklan, sampai pada penjual majalah di pinggir jalan yang semuanya ikut menikmati masa-masa kejayaannya, dan ikut terkena imbasnya pada saat dunia media cetak mengalami kejatuhannya.

Berbeda dengan majalah, yang aku buang karena semakin lama semakin memakan tempat, dan rasanya tidak begitu perlu lagi untuk disimpan, aku tetap menyimpan semua koleksi buku dan novel-novelku, aku menyimpannya di lemari khusus, menatanya dengan rapi. Dan secara berkala membersihkannya dari debu. Koleksi novel-novelku itu, ada yang aku beli, ada yang aku dapatkan sebagai hadiah atau pemberian dari seorang teman. Ketika aku sudah bekerja dan punya penghasilan sendiri, setiap kali sehabis tanggal gajian, pasti aku menyisihkan sedikit uang untuk pergi ke toko buku Gramedia, lalu membeli novel dari pengarang-pengarang kesayangan. Kalau dulu jamannya aku hanya bisa menyewa di tempat penyewaan buku dan meminjam di perpustakaan daerah, aku hanya mengenal novel-novel karya Marga T., Sidney Sheldon, Agatha Christie, N.H. Dini, dan Enid Blyton, John Grisham, ketika aku sudah mampu membelinya sendiri, aku mulai kenal dengan pengarang-pengarang yang lain lebih banyak lagi. Aku mulai membeli novel karya Erich Segal, George Dawes Green, Michael Crichton, Irving Wallace, Jackie Collins, Umar Khayam, dan masih ada beberapa yang lain.

Dari semua koleksi novel yang sudah aku baca dan aku miliki, rasa-rasanya aku tidak bisa memfavoritkan salah satunya. Setiap pengarang, setiap judul punya kekahasan, punya keunggulan, keunikan, dan keseruan masing-masing. Aku tidak bisa bilang John Grisham lebih hebat dari Erich Segal, atau N.H Dini lebih bagus dari Marga T. yang sama-sama pengarang lokal. Semuanya buatku bagus, punya ciri khas masing-masing.
Ketika aku membaca novel-novel karya Agatha Christie, aku akan melihat kepiawaiannya meramu cerita detektif yang saking piawainya, aku hampir tidak pernah bisa menabak ending ceritanya jadinya seperti apa, selalu kasus pembunuhan yang menjadi misteri dari cerita di dalam novelnya tersebut, hanya akan terpecahkan jika kita sudah membacanya sampai akhir. Dan aku sering dibuat ternganga, karena tokoh yang aku curigai sebagai aktor atau pelaku kejahatan dalam cerita novel Agatha Christie, aku selalu salah menebaknya, dan aku akan ingat Mr. Hercule Poirot dan Ms. Marple sebagi tokoh detektif dalam nove-novel Agatha Christie.

Lain lagi dengan novel-noevl John Grisham, yang sarat dengan latar belakang dunia kepengacaraan, bahasa-bahasa sidang di pengadilan, bahasa-bahasa hukum, undang-undang, gugatan, intrik-intrik dan hiruk pikuk dunia pembelaan untuk setiap kasus yang terjadi terhadap seorang manusia yang harus dihadapkan dengan kasus hukum, yang di dalamnya akan melibatkan saksi, tergugat, tersangka, terdakwa, sidang, vonis, hakim, jaksa, juri,  pengacara, penjara, denda, pembuktian, pembelaan, yang semuanya adalah khas dunia hukum. Tapi dari membaca novel-novel John Grisham inilah, aku jadi sedikit banyak, mengerti tentang dunia hukum. Dari mulai sesuatu bisa dijadikan kasus hukum, lalu diusut, kemudian dibawa ke sidang pengadilan, ada pendampingan pengacara, ada pertarungan di sidang pengadilan, yang tidak jarang semua fakta bisa diputarbalikkan, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar, sampai kasus selesai, dan pemenangnya keluar yang diputuskan oleh kewenangan hakim, berdasarkan hasil keputusan juri kemudian novel berakhir. Sekarang aku sudah jarang membaca dari media cetak, dunia sudah memberikanku kemudahan untuk bisa membaca apapun secara online. Salah satunya di blog-blog seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar